Senin, 09 Februari 2026

KETIKA RUMAH DOA MENJADI TEMPAT YANG TIDAK RAMAH BAGI PENCARI TUHAN

Ketika Yesus Kristus menyucikan Bait Allah, Ia mengutip firman Tuhan dengan sangat jelas:

“Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Namun ironisnya menyakitkan.

Bagian Bait Allah yang seharusnya terbuka bagi bangsa-bangsa lain—pelataran orang asing—justru diubah menjadi tempat jual beli. 

Di sanalah penukaran uang dilakukan dengan kurs tinggi, dan binatang persembahan dijual dengan harga mahal. 

Ruang doa bagi pencari Tuhan berubah menjadi ruang paling bising dan paling tidak ramah bagi doa.

Yesus tidak marah karena orang datang ke Bait Allah.
Yesus marah karena orang yang ingin berdoa justru terhalang oleh sistem agama.

Ironi ini terasa sangat dekat dengan realitas gereja hari ini.

Kita mungkin tidak lagi melihat meja penukar uang dan kandang domba di gereja, tetapi sering kali ada “meja-meja lain” yang membuat orang baru merasa asing: budaya internal yang tertutup, sikap menghakimi, aturan tak tertulis, atau gereja yang terlalu sibuk dengan programnya sendiri. 

Orang datang dengan luka dan kerinduan, tetapi pulang dengan rasa tidak diterima.
Tidak sedikit orang hari ini berkata, “Saya masih percaya Tuhan, tapi saya pahit terhadap gereja.”

Mereka bukan meninggalkan iman, melainkan meninggalkan ruang yang seharusnya menjadi rumah. 

Seperti pelataran bangsa-bangsa (court of the gentiles), gereja dapat secara halus menjadi tempat yang tidak ramah bagi pencari Tuhan, bukan karena niat jahat, tetapi karena kehilangan kepekaan.

Di titik inilah kata-kata Leonard Ravenhill terasa sangat relevan:
“The church is not failing because it lacks money, but because it lacks prayer.”

Ketika doa bukan lagi pusat, gereja mudah berubah menjadi organisasi yang sibuk, tetapi miskin kehangatan rohani.

Sebuah survey ilustratif dalam berbagai diskusi jemaat menunjukkan gambaran ini:
* Banyak orang merasa gereja terlalu fokus pada program, bukan doa
* Orang baru sering merasa canggung dan tidak disambut
* Jemaat yang sedang bergumul merasa lebih dinilai daripada didengar

Ini bukan sekadar masalah sosial. Ini masalah rohani.

Yesus mengutip, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa,” karena akses kepada Allah tidak boleh dibatasi oleh sistem manusia. 

Rumah doa bukan hanya tempat orang “yang sudah jadi” berkumpul, tetapi tempat orang yang lelah, bingung, dan terluka boleh datang apa adanya. Seperti diingatkan Dietrich Bonhoeffer:
“The church is the church only when it exists for others.”

Menariknya, Injil mencatat bahwa setelah Bait Allah disucikan, barulah pemulihan terjadi: orang buta melihat, orang timpang berjalan, dan anak-anak memuji Tuhan dengan polos. 

Urutannya penting, penyucian mendahului pemulihan. Ketika ruang doa dipulihkan, hadirat Allah kembali nyata. Hal ini sejalan dengan peringatan A.W. Tozer:
“God is looking for worshipers who worship Him in spirit and in truth.”

Mungkin pertanyaan terpenting bagi gereja hari ini bukanlah seberapa sibuk atau megah ibadah kita, tetapi ini:
Apakah gereja kita masih menjadi rumah doa bagi orang-orang yang sungguh mencari Tuhan?

Karena rumah doa yang sejati tidak diukur dari keramaian aktivitasnya, melainkan dari siapa saja yang masih berani datang, berdoa, dan menangis di hadapan Tuhan di dalamnya.

#LIFEWords (Leo Imannuel Faith Enlightening Words) 

Tidak ada komentar: