MASUKLAH KE DALAM RUMAH
Lukas 15:31-32
"Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira..."
Perumpamaan anak yang hilang berakhir dengan cara yang sangat mengejutkan.
Tidak ada penjelasan apakah anak sulung akhirnya masuk ke rumah atau tetap berdiri di luar. Tidak ada kalimat penutup yang mengatakan bahwa ia bertobat atau berubah hati.
Yesus sengaja membiarkan cerita itu terbuka.
Mengapa?
Karena sesungguhnya perumpamaan ini bukan terutama tentang anak sulung.
Perumpamaan ini adalah cermin bagi setiap pendengarnya.
Di akhir cerita, Yesus seolah-olah memandang para ahli Taurat dan orang Farisi yang sedang menggerutu karena Ia menerima orang berdosa, lalu bertanya:
"Kalian yang mana?
Apakah kalian akan masuk ke dalam rumah atau tetap tinggal di luar?"
Dan pertanyaan yang sama bergema hingga hari ini kepada kita.
Tinggal di Luar atau Masuk ke Dalam?
Secara fisik, anak sulung berada sangat dekat dengan rumah. Namun secara hati, ia jauh dari sukacita ayahnya.
Ia tidak berada di negeri yang jauh seperti adiknya. Ia tidak hidup dalam dosa yang terang-terangan. Ia tetap bekerja, tetap melayani, tetap berada di ladang ayahnya.
Namun ia tetap berada di luar.
Ini mengingatkan kita bahwa seseorang bisa dekat dengan aktivitas rohani tetapi jauh dari hati Bapa.
Seseorang dapat hadir di gereja setiap minggu tetapi tidak menikmati hadirat Tuhan.
Seseorang dapat melayani bertahun-tahun tetapi kehilangan sukacita keselamatan.
Seseorang dapat mengetahui banyak tentang Allah tetapi tidak hidup dalam keintiman dengan Allah.
Rumah itu melambangkan persekutuan, sukacita, penerimaan, dan kasih karunia.
Namun anak sulung memilih berdiri di luar karena ia tidak dapat melepaskan kepahitannya.
Sering kali bukan Tuhan yang menjauh dari kita. Kepahitan, kesombongan, luka hati, dan perbandinganlah yang membuat kita tetap berdiri di luar.
Dosa yang Paling Sulit Disadari
Anak bungsu tahu bahwa ia berdosa.
Anak sulung tidak.
Itulah sebabnya dosa kesombongan rohani sering kali lebih berbahaya daripada dosa yang kelihatan.
Orang yang sadar dirinya sakit akan mencari tabib. Tetapi orang yang merasa sehat tidak merasa membutuhkan pertolongan.
C. S. Lewis pernah menulis:
"Kesombongan adalah kejahatan rohani yang paling besar. Kesombongan membuat seseorang tidak mungkin mengenal Allah sebagaimana adanya."
Anak sulung tidak dapat menikmati pesta bukan karena pintunya tertutup, tetapi karena hatinya tertutup.
Bapa telah membuka pintu. Musik sudah dimainkan. Perayaan telah dimulai.
Satu-satunya penghalang adalah dirinya sendiri.
Kasih Bapa yang Terus mengundang
Hal yang luar biasa adalah sang ayah tidak memaksa.
Ia mengundang.
Kasih sejati tidak menyeret orang masuk ke dalam rumah. Kasih mengundang dan menanti respons.
Demikian pula Allah.
Setiap hari Tuhan mengundang kita masuk lebih dalam ke dalam hadirat-Nya, damai sejahtera-Nya, sukacita-Nya, dan kasih-Nya.
Undangan itu bukan terutama untuk melakukan lebih banyak hal bagi Tuhan.
Undangan itu adalah untuk menikmati hubungan dengan Tuhan.
Henri Nouwen menulis:
"Pertanyaan akhirnya bukan apakah Bapa mengasihi saya, melainkan apakah saya mau tinggal di dalam kasih itu."
Sering kali kita menghabiskan begitu banyak waktu berusaha membuktikan diri kepada Tuhan, padahal Bapa hanya menginginkan kita tinggal di dalam kasih-Nya.
Pintu Masih Terbuka
Kisah ini berakhir terbuka karena kasih karunia Allah juga masih terbuka.
Pintu rumah belum ditutup.
Undangan masih diberikan.
Bapa masih berdiri di ambang pintu memanggil anak-anak-Nya untuk masuk.
Mungkin ada kepahitan yang belum dilepaskan. Mungkin ada kekecewaan yang masih disimpan. Mungkin ada perbandingan yang mencuri sukacita. Mungkin ada kesombongan yang membuat kita sulit menerima kasih karunia.
Namun hari ini Bapa masih berkata:
"Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan Aku."
#AnakSulung
#LIFEWords