Senin, 09 Februari 2026

YESUS PERNAH MARAH DI GEREJA (DAN ALASANNYA MASIH RELEVAN HARI INI)

Refleksi Pentakosta tentang Doa, Otoritas, dan Hati yang Perlu Dimurnikan

Kisah Yesus Kristus menyucikan Bait Allah (Matius 21:12–17) sering dipahami sebagai kisah kemarahan Yesus. Namun sesungguhnya, ini adalah kisah kasih yang tegas. 

Yesus tidak datang untuk menghancurkan gereja, tetapi untuk menyelamatkannya dari kehilangan tujuan. Ia membalik meja bukan karena membenci rumah Bapa-Nya, melainkan karena terlalu mengasihinya untuk membiarkannya tersesat.

Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang bukan karena uang itu sendiri, tetapi karena doa telah tersingkir dari pusat ibadah. 

Rumah Tuhan yang seharusnya menjadi house of worship telah berubah menjadi house of profit. 

Ketika doa menjadi pelengkap dan ibadah menjadi rutinitas, gereja mungkin tampak sibuk dan hidup, tetapi sesungguhnya sedang kehabisan napas rohani. 

Kritik tajam Leonard Ravenhill terasa sangat relevan: “The church has many organizers, but few agonizers; many players and payers, but few pray-ers.” 

Gereja tidak kehilangan kuasa karena kurang metode, melainkan karena kehilangan doa yang bergumul.

Tindakan Yesus juga menegaskan satu hal penting: rumah Tuhan bukan milik manusia. Ia tidak bernegosiasi dengan sistem yang sudah mapan, sebab Ia datang sebagai Pemilik, bukan tamu. 

Di sinilah gereja masa kini perlu bercermin. Ada bahaya ketika struktur, tradisi, atau jabatan mulai lebih menentukan arah gereja daripada ketaatan kepada Kristus. 

Seperti diingatkan John Stott, “The church becomes weak when it imitates the world, and strong when it obeys Christ.” Gereja menjadi lemah bukan karena sederhana, tetapi karena berkompromi dengan ketidaktaatan.

Yesus kemudian mengutip firman Tuhan: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa.” Fakta bahwa pelataran bangsa-bangsa dipenuhi aktivitas jual beli menunjukkan ironi yang menyakitkan—ruang bagi pencari Tuhan justru menjadi ruang paling tidak ramah bagi doa. Padahal, Pentakosta adalah momen ketika sekat bahasa, etnis, dan latar belakang runtuh oleh karya Roh Kudus. 

Gereja kehilangan roh Pentakosta ketika ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan lupa bahwa ia dipanggil untuk dunia. Seperti kata Dietrich Bonhoeffer, “The church is the church only when it exists for others.”

Menariknya, Injil mencatat bahwa setelah Bait Allah disucikan, barulah pemulihan terjadi: orang buta melihat, orang timpang berjalan, dan anak-anak memuji Allah dengan tulus. 

Urutannya jelas—penyucian mendahului pemulihan. Dalam spiritualitas Pentakosta, kuasa tidak pernah dilepaskan tanpa pertobatan dan kerendahan hati. 

Allah tidak mencari ibadah yang paling bising, tetapi hati yang paling jujur. Seperti diungkapkan A.W. Tozer, “God is looking for worshipers who worship Him in spirit and in truth.”

Kisah ini menantang gereja hari ini dengan pertanyaan yang sederhana namun tajam: apakah kita sungguh rindu api Tuhan, atau hanya keramaian ibadah? 

Yesus membalik meja bukan untuk mempermalukan gereja, tetapi untuk memulihkannya. 

Api Pentakosta tidak turun ke gedung atau sistem, melainkan ke mezbah hati yang bersedia dimurnikan.

Mungkin kebangunan rohani tidak tertunda karena Allah belum siap, tetapi karena gereja (termasuk kita di dalamnya) belum mau membiarkan Kristus menyucikan apa pun yang telah mengambil tempat-Nya di pusat ibadah kita.

#LIFEWords (Leo Imannuel Faith Enlightening Words) 

Tidak ada komentar: