Keberanian yang Tidak Bersuara Keras
Di dalam Injil Matius 5:39, Yesus Kristus mengucapkan sebuah kalimat yang terus menantang logika manusia: “Jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu.”
Sekilas, ini terdengar seperti ajakan untuk diam dan menerima ketidakadilan. Namun, di balik kata-kata itu tersembunyi sebuah keberanian yang tidak biasa, sebuah tingkat keberanian yang lahir dari pemahaman akan martabat manusia.
Dalam budaya Timur Tengah kuno dan dunia Romawi pada masa itu, tamparan memiliki makna sosial yang jelas.
Menampar pipi kanan biasanya dilakukan dengan punggung tangan (backhand slap), dan itu bukan sekadar serangan fisik, melainkan tindakan penghinaan.
Cara ini lazim dipakai oleh seseorang yang memiliki status lebih tinggi, tuan kepada budak, majikan kepada pelayan, atau orang berkuasa kepada mereka yang dianggap lebih rendah.
Itu adalah bahasa tubuh yang berkata: “Engkau tidak setara denganku.”
Jadi, tamparan itu bukan hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga merendahkan secara identitas.
Namun Yesus tidak mengajarkan pembalasan. Ia juga tidak mengajarkan penerimaan pasif terhadap penghinaan.
Ketika Ia berkata untuk memberikan pipi kiri, Ia sedang membuka jalan yang sama sekali berbeda, sebuah jalan yang tidak tunduk pada kekerasan, tetapi juga tidak tunduk pada penghinaan.
Memberi pipi kiri adalah tindakan yang tampak sederhana, tetapi sarat makna.
Dalam konteks budaya saat itu, tindakan ini membuat pelaku tidak bisa lagi menggunakan cara yang sama untuk merendahkan.
Ia dipaksa untuk mengubah cara memperlakukan orang tersebut, dari penghinaan menjadi perlakuan yang lebih setara.
Dengan kata lain, tindakan ini adalah bentuk perlawanan tanpa kekerasan yang menegaskan martabat diri tanpa membalas kejahatan.
Di sinilah manusia berdiri dalam terang Imago Dei, gambar Allah.
Martabat manusia tidak ditentukan oleh bagaimana dunia memperlakukannya, tetapi oleh siapa yang menciptakannya.
Maka, memberi pipi kiri adalah cara untuk berkata "aku tidak akan membalasmu, tetapi aku juga tidak akan menerima definisimu atas diriku."
Kasih yang diajarkan Yesus bukanlah kasih yang lemah. Ia adalah kasih yang berani untuk tidak membalas, dan cukup kuat untuk tidak membenci.
Seperti yang dihidupi oleh Dietrich Bonhoeffer, kasih kepada musuh adalah tempat di mana rantai kejahatan diputus bukan diteruskan.
Semua ini mencapai puncaknya dalam Penyaliban Yesus. Di sana, Yesus diperlakukan seperti yang paling hina, disiksa, dihina, dan direndahkan.
Namun Ia tidak membalas. Bukan karena Ia lemah, tetapi karena Ia memilih untuk menunjukkan bahwa kasih lebih kuat daripada kekerasan.
Bahkan dalam penderitaan, Ia berkata: “Bapa, ampunilah mereka.”
Memberi pipi kiri, pada akhirnya, bukan tentang kalah atau menang. Itu adalah tentang hidup dalam kebenaran bahwa martabat kita tidak bisa dihancurkan oleh tangan manusia mana pun.
#LIFEWords (Leo Imannuel Faith Enlightening Words)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar