Antara Rutinitas dan Iman
Dalam narasi penyembuhan anak Yairus, Alkitab menyajikan sebuah kontras linguistik yang mendalam tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan Tuhan.
Di sana ada kerumunan besar yang mendesak Yesus, namun hanya satu perempuan yang benar-benar menjamah-Nya.
Dalam teks aslinya, kata "mendesak" menggunakan istilah sunthlibo, yang berarti menekan dari segala sisi karena situasi massa.
Ini adalah gambaran dari orang-orang yang berada di dekat Yesus hanya karena mengikuti arus atau rutinitas, namun tidak mengalami perubahan apa pun.
Sebaliknya, tindakan si perempuan disebut sebagai haptomai, sebuah sentuhan yang disengaja dengan maksud untuk melekatkan diri.
Perempuan ini tidak menyentuh Yesus karena ketidaksengajaan.
Setelah dua belas tahun menderita dan kehilangan segalanya, ia mengubah keputusasaannya menjadi harapan yang spesifik "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Inilah pembeda utamanya kerumunan bergerak karena situasi (sunthlibo), sementara iman bergerak karena tujuan (haptomai).
Yesus merasakan ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, membuktikan bahwa Ia sangat peka terhadap tarikan iman yang tulus di tengah kebisingan massa.
Seperti kata St. Agustinus "Flesh presses, faith touches"
(Daging mendesak, namun iman menjamah.)
Tuhan tidak tergerak oleh ritual yang megah, melainkan oleh hati yang lapar dan haus yang berani melangkah maju secara personal.
Tulisan ini menjadi pengingat bagi kita bahwa di tengah aktivitas ibadah kita, apakah kita hanya sedang sunthlibo, terhanyut dalam arus rutinitas agama? Ataukah kita sedang haptomai, menjamah hati Tuhan dengan iman yang sungguh-sungguh?
Mari berhenti menjadi sekadar bagian dari kerumunan dan mulailah membangun koneksi yang murni dengan-Nya.
#LIFEWords (Leo Imannuel Faith Enlightening Words)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar