SUKACITA YANG DICURI PERBANDINGAN
Lukas 15:29
"Kepadaku belum pernah engkau berikan seekor anak kambing."
Kalimat anak sulung ini terdengar seperti keluhan seseorang yang selama ini diabaikan. Namun jika kita membaca keseluruhan kisahnya, kita menemukan sesuatu yang menarik: sebenarnya ia tidak kekurangan apa pun.
Sang ayah berkata kepadanya:
"Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu." (Luk. 15:31)
Masalah anak sulung bukanlah kemiskinan, melainkan perspektif.
Ia hidup di rumah ayahnya, menikmati perlindungan, kasih, dan hak waris yang penuh, tetapi ia tidak lagi melihat semua itu. Yang ia lihat hanyalah pesta untuk adiknya.
Perbandingan telah membutakan matanya terhadap berkat yang sudah dimilikinya.
Betapa sering kita mengalami hal yang sama. Kita memiliki keluarga yang mengasihi kita, kesehatan yang masih Tuhan pelihara, pekerjaan yang cukup, gereja yang mendukung, dan berbagai berkat lain yang sering kita anggap biasa.
Namun dalam sekejap, rasa syukur itu lenyap ketika kita melihat orang lain tampak lebih berhasil.
Media sosial memperbesar godaan ini.
Kita melihat promosi jabatan orang lain, bisnis yang berkembang, rumah baru, pelayanan yang terlihat lebih berhasil, atau kehidupan yang tampak lebih bahagia. Tanpa sadar kita mulai bertanya:
"Tuhan, mengapa hidup mereka seperti itu sementara hidupku begini?"
Perbandingan mengubah berkat menjadi beban.
Apa yang dahulu kita syukuri tiba-tiba terasa tidak cukup karena ada orang lain yang memiliki lebih banyak.
Anak sulung lupa bahwa ia adalah anak, bukan budak.
Ia mulai menghitung apa yang tidak ia terima daripada menikmati hubungan yang sudah ia miliki dengan ayahnya.
Hatinya berubah dari kasih menjadi perhitungan.
Sayangnya, penyakit rohani ini juga dapat menyerang orang-orang yang setia melayani Tuhan.
Kita mulai membandingkan jumlah jemaat, pengaruh pelayanan, kesempatan berkhotbah, kemampuan finansial, atau bahkan pengalaman rohani orang lain.
Akibatnya sukacita pelayanan berubah menjadi kompetisi yang melelahkan.
Padahal Allah tidak menulis cerita yang sama untuk setiap anak-Nya.
Musa memimpin Israel keluar dari Mesir tetapi tidak masuk Kanaan.
Yosua masuk Kanaan tetapi tidak membelah Laut Teberau.
Daud membangun kerajaan, sementara Salomo membangun Bait Allah.
Setiap orang memiliki panggilan, musim, dan bagian yang berbeda dalam rencana Tuhan.
Yang menjadi ukuran keberhasilan di hadapan Tuhan bukanlah apakah kita memiliki bagian yang sama dengan orang lain, melainkan apakah kita setia pada bagian yang Tuhan percayakan kepada kita.
Theodore Roosevelt pernah berkata:
"Comparison is the thief of joy."
(Perbandingan adalah pencuri sukacita.)
Sementara Corrie ten Boom menulis:
"Look around and be distressed. Look within and be depressed. Look at Jesus and be at rest."
("Melihat sekeliling membuat kita cemas. Melihat diri sendiri membuat kita putus asa. Melihat Yesus membuat kita tenang.")
Ketika mata kita terus tertuju kepada orang lain, hati kita akan dipenuhi iri, kecewa, dan rasa kurang.
Tetapi ketika mata kita tertuju kepada Kristus, kita mulai melihat kembali betapa besar kasih karunia yang sudah kita terima.
Orang yang terus membandingkan dirinya dengan orang lain tidak akan pernah merasa cukup, tetapi orang yang memandang Kristus akan selalu menemukan alasan untuk bersyukur.
#AnakSulung
#LIFEWords
Tidak ada komentar:
Posting Komentar