KETIKA PELAYANAN MENJADI TRANSAKSI
Lukas 15:29
"Telah bertahun-tahun aku melayani engkau."
Anak sulung merasa jasanya tidak dihargai.
Perhatikan bagaimana ia mulai menghitung:
"Telah bertahun-tahun aku melayani."
"Belum pernah aku melanggar."
"Kepadaku belum pernah diberikan."
Tanpa disadari, ia sedang menyusun daftar prestasi di hadapan ayahnya. Ia merasa kesetiaannya seharusnya memberinya perlakuan khusus.
Bukankah kita juga kadang demikian?
Kita melayani, berdoa, memberi, dan berkorban.
Lalu ketika doa tidak dijawab atau keadaan tidak berjalan sesuai harapan, muncul kekecewaan.
Seolah-olah kita berkata:
"Tuhan, bukankah aku sudah melakukan banyak hal untuk-Mu?"
Di sinilah bahayanya.
Pelayanan yang seharusnya lahir dari kasih bisa berubah menjadi transaksi.
Anak melayani karena mengasihi ayahnya.
Budak melayani karena mengharapkan upah.
Tuhan tidak pernah memanggil kita menjadi pekerja yang menagih bayaran. Ia memanggil kita menjadi anak-anak yang hidup dalam kasih-Nya.
Timothy Keller pernah berkata:
"Anak sulung menaati ayahnya bukan untuk mendapatkan ayahnya, melainkan untuk mendapatkan apa yang dimiliki ayahnya."
Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam sikap yang sama.
Hari ini, mari memeriksa hati kita. Apakah kita masih menikmati Tuhan? Ataukah kita hanya sibuk bekerja untuk Tuhan?
Karena upah terbesar dari melayani Tuhan bukanlah berkat, jawaban doa, atau keberhasilan pelayanan.
Upah terbesar dari melayani Tuhan adalah Tuhan itu sendiri.
#AnakSulung
#LIFEWords
Tidak ada komentar:
Posting Komentar