Sabtu, 13 Juni 2026

BERBAHAGIALAH The Prologue

The Prologue 

Kata "berbahagialah" dalam Matius 5:3-11 sangat kaya makna dan layak mendapat perhatian khusus.

Kata itu berasal dari kata Yunani makarioi

Secara harfiah maknanya adalah
"Orang-orang yang diberkati" atau "Orang-orang yang berada dalam keadaan yang mendapat perkenanan Allah."

Dalam budaya Yunani kuno kata makarios dipakai untuk menggambarkan para dewa yang dianggap hidup dalam keadaan sempurna, bebas dari penderitaan dan kekurangan.

Namun ketika dipakai dalam Alkitab, khususnya oleh Yesus, maknanya mengalami pendalaman yang luar biasa.

Makarios bukan pertama-tama berbicara tentang:
- Perasaan senang
- Suasana hati yang baik
- Keadaan hidup yang nyaman

Melainkan tentang status seseorang di hadapan Allah.

Karena itu "berbahagialah" dalam Matius 5 lebih tepat dipahami sebagai:
- Diberkati oleh Allah
- Berkenan di hadapan Allah
- Berada dalam posisi yang diperkenan Allah
- Menikmati perkenanan Kerajaan Allah

Seseorang bisa saja sedang menangis, miskin, ditolak, bahkan dianiaya, tetapi tetap disebut makarios karena Allah menyatakan perkenanan-Nya atas hidup orang tersebut.

Dalam Latar Belakang Yahudi kata Yunani makarios sering dipakai dalam Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani) untuk menerjemahkan kata Ibrani 'ashrê

Seperti di dalam Mazmur 1:1
"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik..."

Kata ashrê menggambarkan kehidupan yang berada di jalur yang benar menurut Allah.

Jadi ketika Yesus berkata:
"Makarioi hoi ptōchoi tō pneumati..."
("Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah...")

Orang Yahudi langsung mengerti bahwa Yesus sedang mengumumkan:
"Inilah orang-orang yang hidup dalam perkenanan dan persetujuan Allah."

Menurut John Stott:
"Makarios menunjukkan persetujuan Allah terhadap seseorang, bukan sekadar kebahagiaan manusia."

Menurut D. Martyn Lloyd-Jones:
"Makarios menggambarkan sukacita batin yang tidak bergantung pada keadaan luar."

Sedangkan William Barclay menyebutnya:
"The joy which has its secret within itself."

Sukacita yang sumbernya bukan dari luar, melainkan dari hubungan dengan Allah.

Ketika Yesus berkata:
"Berbahagialah orang yang berdukacita..."

Ia tidak berkata:
"Berbahagialah karena dukacitanya."

Melainkan:
"Berbahagialah orang itu, karena di tengah dukacitanya ia tetap berada dalam perkenanan Allah."

Ketika Yesus berkata:
"Berbahagialah orang yang dianiaya..."

Ia tidak sedang memuliakan penderitaan.

Ia sedang menyatakan bahwa orang yang tetap setia kepada Allah di tengah penderitaan adalah orang yang diberkati.

"Makarios bukan tentang bagaimana perasaan kita hari ini, tetapi tentang bagaimana Allah memandang kita di dalam Kerajaan-Nya."

Atau lebih singkatnya
"Berbahagia menurut Yesus bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan hidup dalam perkenanan Allah."

#UcapanBahagia 
#TheBeatitudes

#LIFEWords 

Tidak ada komentar: