SEGALA KEPUNYAANKU ADALAH KEPUNYAANMU
Lukas 15:31
"Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu."
Kalimat ini merupakan salah satu pernyataan paling mengharukan dalam perumpamaan anak yang hilang.
Di tengah kemarahan dan keluhan anak sulung, sang ayah tidak menegurnya dengan keras. Ia justru mengingatkannya akan sebuah kebenaran yang selama ini tidak ia sadari:
"Engkau selalu bersama-sama dengan aku dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu."
Ironisnya, anak sulung hidup di rumah ayahnya, menikmati perlindungan, warisan, dan kedekatan dengan ayahnya, tetapi ia hidup dengan mentalitas seorang pelayan yang kekurangan.
Ia berbicara seolah-olah tidak pernah menerima apa pun, padahal seluruh warisan ayah sebenarnya telah tersedia baginya.
Masalah anak sulung bukanlah kekurangan berkat, melainkan kegagalan mengenali berkat yang sudah dimilikinya.
Bukankah sering kali kita juga demikian?
Kita telah menerima pengampunan dosa, tetapi lebih sibuk memikirkan masalah yang belum terselesaikan.
Kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah, tetapi terus hidup dengan ketakutan seperti yatim piatu.
Kita telah menerima damai sejahtera Kristus, tetapi lebih fokus pada kekhawatiran daripada penyertaan-Nya.
Kita telah memiliki janji hidup kekal, tetapi sering kehilangan sukacita karena perkara-perkara sementara.
Sering kali sumber ketidakbahagiaan bukanlah kurangnya berkat, melainkan kurangnya kesadaran akan berkat.
Anak sulung begitu sibuk menghitung apa yang diterima adiknya sehingga ia lupa menghitung apa yang telah diberikan ayahnya kepadanya.
Perbandingan membuatnya buta terhadap kelimpahan yang selama ini ia nikmati.
Begitu pula ketika kita terus membandingkan hidup kita dengan orang lain, kita akan selalu menemukan alasan untuk mengeluh.
Tetapi ketika kita memandang kepada kasih karunia Allah, kita menemukan alasan yang tidak pernah habis untuk bersyukur.
Charles Spurgeon pernah berkata:
"Gunung tertinggi sukacita adalah rasa syukur."
Semakin seseorang menyadari betapa besar kasih karunia yang telah diterimanya, semakin dalam sukacitanya.
Sebaliknya, orang yang melupakan kasih karunia akan selalu merasa kurang, bahkan ketika hidup dalam kelimpahan.
Sukacita sejati tidak lahir dari memiliki lebih banyak. Sukacita lahir dari menyadari betapa banyak yang telah diberikan Allah kepada kita di dalam Kristus.
#AnakSulung
#LIFEWords
Tidak ada komentar:
Posting Komentar