Jumat, 15 Juli 2011

WU XIA

Pelanggaran, Hukum dan Pengampunan

Adakah kesempatan kedua bagi seorang penjahat kejam untuk dia melupakan masa lalunya dan memulai sebuah hidup baru di dalam pertobatan tanpa kejaran hukum dan masa lalu? 

Itulah pertanyaan yang coba diajukan oleh Liu Jin-xi (Donny Yen), seorang pembunuh kejam dan putra tunggal dari klan pembunuh kejam. 

Di samping itu Xu Bai-jiu (Takeshi Kaneshiro), seorang detektif polisi juga bergelut dengan pertanyaan mana lebih penting? Menegakkan hukum? Atau mengikuti hati nurani? 

Kedua pertanyaan inilah yang coba dijawab dan digambarkan di dalam film Wǔxiá (Wu Xia) (Traditional Chinese: 武俠; Simplified Chinese: 武侠; pronounced "woo seeyah") literally meaning "Martial Arts Chivalry" or "Martial Arts Heroes" or "Swordsman"), yang di sutradarai oleh Peter Chan.

Secara singkat film Wu Xia bercerita tentang Liu Jin-xi (Donny Yen) seorang pemilik toko kertas di sebuah desa kecil dan damai di Yunan. Ketenangan hidup Liu Jin-xi terusik ketika dia berhasil membunuh dua orang perampok kejam yang sudah lama menjadi buronan polisi, yang mencoba merampok tokonya. 

Kejadian ini menyulut keingintahuan detektif polisi Xu Bai-jiu (Takeshi Kaneshiro), karena bagaimana mungkin seorang desa sederhana bisa membunuh dua orang perampok, yang sudah terkenal kekejaman dan kelihaiannya? 

Ternyata memang Liu Jin-xi bukanlah orang desa sederhana, identitas aslinya adalah Tang Long, salah seorang anggota klan 72, sisa-sisa klan Tanguts (mantan penguasa Xixia, sebuah negara tetangga China) yang menjadikan pemerkosaan, penjarahan/perampokan dan pembantaian sebagai sebuah gaya hidup.

Suatu kejadian di rumah penjagal hewan merubah hidupn Liu Jin-Xi, yang segera melarikan diri ke sebuah desa terpencil dan menikah dengan janda 1 anak bernama A yu (Wei Tang). 

Tang Long berusaha bertobat dan memulai hidup baru sebagai Liu Jin-xi, tapi apa daya hukum dan klan Tanguts tidak mengijinkannya berubah.

Di dalam film ini kedua pertanyaan di atas mengemuka dengan nyata. Liu Jin-xi mewakilkan seseorang yang ingin hidupnya berubah, adakah kesempatan kedua baginya? Apakah keinginan untuk berubah tanpa dakwaan masa lalu adalah sebuah kenihilan atau kenyataan? Apakah masa lalunya mengijinkannya berubah? Sebaliknya detektif polisi Xu Bai-jiu (Takeshi Kaneshiro) mewakilkan pertanyaa apakah hukum akan tutup mata terhadap dosa-dosa masa lalu, hanya karena orang tersebut menyatakan diri mau bertobat?

Bagi Xu Bai-jiu hukum adalah sesuatu yang kaku. Dia berdiri tegak bagai batu karang aturan yang tidak bisa tidak harus dilaksanakan siapapun pelakunya dan apapun resikonya. Di film ini kekakuan hukum terlihat ketika diceritakan dengan singkat detektif Xu, yang tanpa tedeng aling-aling menangkap calon mertuanya yang kedapatan menjual obat palsu, yang mengakibatkan sang calon mertua bunuh diri karena malu. Padahal obat palsu tersebut tidak membahayakan orang yang membelinya. Hubungannya dengan tunangan menjadi rusak. Namun bagi detektif Xu, hal tersebut adalah resiko dalam penegakkan hukum. Kekakuan pelaksanaan hukum ini dipertanyakan oleh anak buahnya yang mengatakan: Jika hukum tidak bisa menolong orang yang bertobat, apakah gunanya hukum tersebut? Di tangan Xu, hukum bukan lagi sebagai pengendali tingkah laku manusia melainkan sebagai alat penghukum yang kejam dan tanpa perasaan.

Hal ini juga yang dipertanyakan oleh Tuhan Yesus ketika menghadapi penegakkan syariat Taurat yang kaku: Kemudian Ia berkata kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?" Lukas 14:5, menurut adat istiadat Yahudi, selama hari Sabat seseorang tidak boleh melakukan aktivitas apapun, namun Tuhan Yesus mempertanyakannya, jika anakmu terperosok? Apakah engkau akan membiarkannya menderita bahkan sampai meninggal hanya karena kejadian itu terjadi pada hari Sabat? Mana lebih penting? Hidup manusia atau hukum?

Jika berlandaskan pada hukum maka tidak ada manusia yang bisa bebas dari murka Allah. Roma 3:23 mengatakan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dan “.......upah dosa ialah maut.” Roma 6:23. Jika berlandaskan hukum maka nasib perempuan di tepi sumur di Samaria, wanita yang kedapatan berzinah, Zakheus bahkan Saulus akan terbuang selamanya di api neraka. Tapi syukur kepada Allah bahwa ada anugerah. Upah dosa memang maut, “......tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Keselamatan adalah anugerah. Paulus di dalam Efesus 2:8-9 menuliskan:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”

Tidak ada seorangpun yang dapat mengerjakan atau membeli keselamatan. Karena jika seseorang mampu melakukannya berarti dia lebih hebat atau minimal sama dengan Tuhan, jika seseorang lebih hebat atau minimal sama dengan Tuhan maka dia tidak perlu Tuhan lagi karena dia sudah menjadi Tuhan.

Oleh karena keselamatan adalah suatu kenihilan bagi manusia maka Allah memberikannya gratis, sebagai suatu anugerah bagi manusia. Hukum anugerah inilah yang membedakan kekristenan dengan hukum-hukum yang lain. Apakah dengan anugerah orang bisa seenaknya berbuat dosa? Tentu tidak. Justru ketika mendapatkan anugerah yang besar seseorang akan dengan sungguh-sungguh menjalani hidup dengan benar. Kebebasan yang disertai tanggung jawab selalu ada di hatinya.

Wajah kasih karunia ini tergambar melalui wujud istri Liu Jin-xi, Ayu (Wei Tang) yang menerima suaminya apa adanya meski tanpa identitas dan juga terlihat meski sekilas namun amat kuat tergambar melalui peran mantan kekasih Xu Bai-jiu. Untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan Tang Long hakim meminta sogokan 20 tael perak, sementara gaji Xu Bai-jiu sebagai detektif polisi hanya 2 tael perak setahun, untuk suksesnya tugas Xu, sang mantan tunangan memberikan uangnya 20 tael perak, meskipun dia sangat membenci Xu, yang mengakibatkan ayahnya bunuh diri.

Kasih karunia mampu melihat melampaui kekakuan kebencian, ketakutan dan hukum. Kasih karunia melihat lebih jauh dan lebih dalam melampaui apa yang hukum mampu lihat. Hukum hanya melihat bentuk fisik, namun kasih karunia melihat ke dalam hati manusia. Contohnya adalah hukum tidak bisa menghukum kejahatan yang belum dilakukan, namun bagi kasih karunia yang melihat sampai kedalaman hati manusia, sudah menilai keinginan sebagai suatu kejahatan (Matius 5:28 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”). Sebaliknya hukum hanya mampu mengatur keteraturan hidup manusia sebatas luar, namun tidak mampu merubah natur keberdosaan manusia, namun kasih karunia mampu mengubah natur keberdosaan manusia dan menjadikanya manusia baru.

Tanpa penerimaan tulus istrinya dan seluruh penduduk desa apakah Tang Long yang kejam bisa berubah menjadi Liu Jin-Xi yang lemah lembut? Film menggambarkan bagaimana Liu Jin-Xi kembali berubah menjadi Tang Long karena kejaran masa lalu yang terus menerus mengejar dan mendakwanya. Dari mana klan Tanguts mengetahui keberadaan Tang Long? Hakim yang tidak jujur yang disuap oleh Xu dengan 20 tael perak untuk mengeluarkan surat penangkapan Tang Long, menjadi serakah dan mengharapkan imbalan dengan mengadukannya ke klan Tanguts. Dari sinilah masa lalu mengejar Liu Jin-Xi dan memaksanya berubah menjadi Tang Long, namun sekali lagi hanya kasih karunia yang menjadikannya sekali lagi sebagai Liu Jin-Xi. Apakah yang merubah hidup Zakheus? Apakah yang merubah perempuan berdosa yang di bawa ke Tuhan Yesus? Atau perempuan di tepi sumur Samaria? Atau apakah yang merubah hidup Paulus? Dan hidup jutaan orang lainnya? Bukan hukum yang kaku melainkan kasih karunia. JLI

Kamis, 17 Maret 2011

PORNOGRAFI

Suatu kali saya menjadi utusan sinode untuk menghadiri munas salah satu lembaga gereja aras nasional, di suatu kota, di sebuah hotel. Salah satu kejadian menarik yang saya alami adalah ketika di sela-sela waktu rehat munas saya turun tangga ke arah basement dan saya melihat dua buah patung perempuan yang diletakkan di sisi kiri dan kanan pintu masuk ke lobby hotel dari parkiran mobil basement, ditutupi kain putih sampai sebatas leher. Seingat saya tradisi pembungkusan patung, arca maupun gapura hanya ada pada masyarakat Hindu, teristimewa di Bali. Itupun yang dibungkus kain bercorak hitam putih khas papan catur adalah patung dewa dan gapura yang bernilai keagamaan. Tidak pernah patung perempuan sebagai penghias dekorasi sebuah hotel berarsitektur gaya renaissance Eropa ditutupi oleh kain.

Iseng-iseng saya bertanya kepada Pak Satpam penjaga pintu, mengapa patung dibungkus kain putih? Pak Satpam menjawab berhubung mentri agama mau datang ke hotel tersebut, dan kedua patung perempuan tersebut agak vulgar dan cenderung berbau pornografi. Jadi atas nama rasa segan kepada mentri agama kedua patung tersebut ditutupi.

Saya tertawa geli di dalam hati mendengar alasan management hotel menutupi kedua patung perempuan tersebut. Mengapa? Karena pertama, kedua patung tersebut diletakkan di basement. Suatu lokasi di mana seorang mentri tidak akan menginjakkan kakinya, karena bukankah dia memiliki supir, yang akan men-drop-nya langsung di depan lobby? Sesuatu yang tidak kelihatan tidak akan menimbulkan syak wasangka bukan?

Kedua, tindakan menutupi kedua patung perempuan tersebut sebenarnya menyatakan bahwa keberadaan patung-patung tersebut salah dan melanggar etika kepatutan, moral dan iman. Namun, pihak hotel sengaja meletakkannya di sana, alias sengaja melanggar hukum dan norma-norma moral dan etika. Lalu dengan nakal mencoba menutupinya dari pandangan seorang menteri agama. Ketika sang mentri pergi, pembungkus patung dibuka kembali. Tindakan tersebut sebenarnya hendak mengakali seorang mentri agama, yang nota bene adalah seorang pejabat negara!

Ketiga, dan ini yang paling menggelikan saya. Di lobby hotel, sebuah tempat umum, tempat di mana mentri agama hampir pasti bisa melihatnya, terpampang sebuah lukisan besar dan panjang, yang melukiskan adegan banyak perempuan sedang mandi. Sebagian telanjang setengah dada, sebagian lagi telanjang bulat. Lukisan tersebut dibiarkan terbuka dan menjadi tontonan umum. Mengapa yang letaknya agak tersembunyi dari pandangan mata seorang menteri agama ditutupi, dan yang berada di tempat umum malah dibiarkan terbuka begitu saja. Malah seingat saya patung tersebut bukankah patung wanita telanjang.

APA ITU PORNOGRAFI?
Apakah itu pornografi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; 2 bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dl seks.

Menurut definisi KBBI ini ada di manakah masalahnya? Di konten porno atau di nafsu berahi kita? Jika saya nyatakan melalui pertanyaan demikian: apakah ketelanjangan adalah sebuah pornografi? Apa jawaban Anda? Jika ya, bagaimana saat kita mandi? "Ya, kalo mandi kan sendirian aja!" Atau bagaimana jika Anda seorang pria dimasukkan ke sebuah kamar gelap gulita, lalu tanpa sepengetahuan Anda, saya masukkan seorang wanita muda, cantik, seksi dan telanjang bulat. Apakah nafsu berahi Anda akan bangkit? Tentunya tidak, karena Anda tidak mengetahui bahwa di kamar tersebut ada seorang wanita yang sangat menarik hati, bukan? Akankah si wanita bisa disamakan dengan definisi pornografi KBBI di atas? Tentu juga tidak, karena meski telanjang, tidak ada nafsu berahi yang dibangkitkan. Atau bagaimana jika di kamar yang sama saya masukkan seorang perempuan buruk rupa, namun bersuara merdu. Lalu melalui kata-katanya yang mendesah penuh rayuan maut, wanita buruk rupa ini menggambarkan betapa Indah tubuhnya, betapa seksinya dia, bagaimana wajahnya mirip dengan salah satu artis bom seks, dan bagaimana dia kepingin disentuh oleh Anda. Apakah berahi Anda akan bangkit? Jika jujur bicara tentu ya, bukan? Bukankah bisnis sex phone, menawarkan jasa seks melalui imajinasi pria yang dibangun melaui suara? Tanpa pelanggan bisa melihat bahwa yang merayunya diujung telepon adalah seorang perempuan berwajah dan bertubuh sangat buruk. Kembali ke kamar, lalu di kamar itu lampu-lampu dinyalakan dan Anda bisa melihat wajah wanita buruk rupa tersebut, apakah nafsu berahi Anda tetap bertahan? Saya berani bertaruh tentu tidak, bukan?

Menurut perenungan saya, pornografi itu adanya di hati dan pikiran manusia yang sudah dikorupsi oleh dosa, dan bukan pada obyeknya. Ketelanjangan berupa lukisan, patung, verbal maupun tulisan yang dipertontonkan menjadi salah karena pikiran yang sudah kotor oleh dosa. Baik yang mempertontonkan dengan maksud membangkitkan berahi orang lain atau mereka yang menontonnya adalah salah menurut kaidah hukum, moral, etika dan agama. Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, maka dunia ini Akan menjadi tempat nudis, karena semua orang akan telanjang, dan tidak akan ada yang malu, maupun terjatuh kepada nafsu berahi yang liar sehingga berani melanggar hukum Allah. Alat kelamin manusiapun tidak akan disebut dengan istilah "kemaluan," karena memang tidak ada yang memalukan mengenainya, kecuali jika diumbar oleh karena nafsu rendah yang bergelimang dosa.

MERUBAH HATI, BUKAN MENYEMBUNYIKAN ATAU SEKEDAR MELARANG
Saya ingat memoar singkat seorang dr. Boyke Dian Nugraha. Bagaimana perjuangannya memberikan pendidikan seks kepada masyarakat. Banyak orang temasuk negara mencibirnya, bahkan menghujatnya sebagai dokter porno. Karena pada masa itu seks masih tabu untuk dibicarakan. Namun, kehamilan di luar nikah dikalangan pelajar meningkatkan. Hal ini yang mendorong dokter Boyke tetap berjuang mengedukasi masyarakat dalam hal seks.

Tidak dibicarakan, tabu untuk diajarkan, dilarang atau disembunyikan tidaklah akan menahan laju pornografi, bukan karena kontennya, namun semata-mata karena hati dan pikiran yang sudah rusak oleh karena dosa. Bahkan sekalipun seorang wanita memakai baju besi tertutup full, namun seorang pria masih dapat menelanjanginya dengan imajinasinya.

Yesus Merubah Hati
Oleh karena itu Yesus lebih tertarik mengubah sumbernya yaitu hati manusia daripada memberikan setumpuk peraturan yang harus ditaati dengan kaku dan ketat. Musa sudah mencobanya dan gagal. Musa memberikan peraturan kepada bangsanya, dengan maksud agar bangsanya menjadi lebih bermoral sehingga melaluinya menjadi berbeda dengan bangsa-bangsa kafir dan bar-bar di sekeliling mereka.

Mereka sudah menjadi bangsa pilihan jauh sebelum Taurat diturunkan, namun apa daya peraturan yang baik di tangan manusia yang hati dan nafsunya masih kotor, berubah menjadi monster legalisme yang menakutkan. Hal ini mengakibatkan ketaatan mutlak terhadap Taurat menjadi syarat mutlak agar menjadi orang atau bagian dari bangsa pilihan Allah. Jika, ketaatan mutlak terhadap hukum Taurat adalah syarat menjadi bagian bangsa pilihan, tentunya Abraham, Ishak dan Yakub tidak termasuk di dalamnya, karena mereka tidak memiliki hukum Taurat. Jika ketiga patriarch tidak layak dipilih karena tidak memiliki hukum Taurat, maka tidak ada bangsa pilihan Dan tidak ada Israel.

Ada idiom yang mengatakan bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Idiom ngawur, namun pada kenyataannya memang demikian. Contoh, peraturan lalu lintas ditaati selama ada petugas yang mengawasi, jika tidak ada petugas, maka peraturan tinggallah peraturan, pelanggaran jalan terus. Contoh sederhana, jika kita lupa menggunakan sabuk keselamatan (safety belt) ketika menumpang mobil teman, peringatan yang Akan diberikan teman kita kepada kita adalah: "Hei, pake dong safety belt-nya, nanti ditangkap polisi!" Seharusnya masalah safety belt, bukanlah masalah ditangkap polisi, namun masalah keamanan diri sendiri. Jika kesadaran ini muncul dari dalam hati sendiri maka meski tidak ada polisi sekalipun kita tetap akan menggunakan safety belt.

Meskipun penting, namun peraturan terbaik bukanlah peraturan yang tertulis di buku, melainkan yang terpatri di dalam hati. Oleh karena itu Yesus dan para rasul lebih tertarik merubah hati manusia. Mereka menyadari bahwa sumber dari segala kejahatan manusia bersumber di hati (Amasal 4:23; Matius 12:34, 15:18; Roma 12:2; Kolose 3:5-10). Bisakah membumihanguskan pornografi dengan kekerasan, peraturan-peraturan ketat dengan hukuman yang berat, jika sumbernya di hati manusia yang kotor?

Dapatkah hukum tertulis mengatur hati manusia? Pernahkah ada orang yang dihukum karena terbersit keinginan dihatinya untuk mencuri? Atau membunuh? Hukum tertulis hanya dapat mengatur niat yang sudah berbuah menjadi tindakan nyata. Namun, hukum Tuhan mengatur sampai ke hati manusia, meski belum berbuahkan tindakan nyata (Matius 5:28).

Sabtu, 05 Februari 2011

My BB

My BB is my best friend…..

Selalu setia meneman dikala sendiri….. Kecuali jika sedang low bat, makanya aku menyediakan semua keperluannya agar tetap bisa on terus, baik itu charger mobil maupun baterai cadangan.

My BB is very canggih…. Bisa surfing internet – tapi gak bisa konten porno karena sudah diblok oleh pemerintah - ketika sedang menunggu teman yang janjinya tidak bisa dipercaya.

Obat penghilang bête ketika sedang dalam antrian Bank, bioskop, kasir, atau kemacetan kota Jakarta yang menurut penelitian pada tahun 2010 yang lalu rata-rata kecepatan mobil hanya 10 km/jam!!!!

Tempat pelarian paling oke waktu salah tingkah diliatin lawan jenis ketika di restaurant atau di tempat-tempat lain…. Pura-pura sibuk BBM-an padahal sih hati jengah juga, tengsin diliatin orang yang rada-rada ganjen…. Bukan GR loh tapi PD aja :-)

Bisa langsung ketik ketika dapat inspirasi dan langsung mengirimkannya ke teman-teman atau sekedar buat koleksi pribadi…

Bisa buat tertawa ketika dapat kiriman BBM yang lucu.

Menitikkan air mata karena emosi tersentuh membaca BBM cerita-cerita yang sedih.

Bisa buat takut juga dan was-was membaca kisah-kisah kejahatan di jalan.

Bisa membangkitkan semangat membaca kata-kata motivasional dan inspirasional.

Tapi seringkali juga langsung hapus saja kiriman BBM-annya karena sudah ngulang-ngulang terus, bahkan ada beberapa cerita yang sudah kita baca dari dua tahun lalu dan masih mutar-mutar entah kemana saja dan putarannya kembali ke BBM kita, cape deh….

Kadang juga tersenyum sinis ketika membaca BBM-an teman berisi kata-kata religius hasil nyontek alias copas dari orang lain, tanpa teman ini menyebutkan sumbernya jadi seolah-olah buatan sendiri, hahahaha…….

My BB keren juga bisa buat grup contact list sesuai klasifikasi teman. Ada grup teman SD, SMP, SMA, kuliah, teman gereja, Nah, yang teman gereja ini dibagi-bagi lagi tergantung pelayanannya apa, ada yang buat grup usher khusus buat tim pelayanan usher, profetik buat yang pelayanannya nyanyi-nyanyi, ada yang grup guru-guru sekolah minggu, dan lain sebagainya. Nah, buat yang kebanyakan pelayanan malah jadi bingung, karena grup di BB-nya jadi banyak akibatnya BB jadi lemot, hehehe…..

Tapi kadang My BB bisa bikin kesal juga karena sulitnya mencari nama teman di contact list karena saking canggihnya dan kreatifnya, teman menulis namanya dengan hruf-huruf yang sangat ajaib dan susah dibaca, even kadangkala itu bukan huruf kali, Cuma keliatannya seperti huruf….

Tapi akhir-akhir ini saya merasa kenapa My BB lama kelamaan tidak lagi menempatkan dirinya sebagai teman yang sederajat. Dia lambat laun memainkan jurus manipulatif dan menempatkan dirinya sebagai penguasa hidup saya.

Dengan ilmu kanuragannya dia menghipnotis dan membuat saya menjadi seperti orang autis yang menjadi asing dengan lingkungan.

My BB seperti pasangan yang sangat pencemburu dan tidak rela berbagi diri saya dengan yang lain. Dia memenjarakan saya dengan pesonanya, saya terikat dengan dia.

Bahkan anak, istri, keluarga, teman dan pekerjaan jadi agak terbengkalai….. Coba bayangkan, sudah seharian tidak ketemu istri karena masing-masing sibuk bekerja, ketika sore hari menjemput istri, eh, bukannya ngobrol melepas rindu malah masing-masing saling diam di tengah kemacetan Jakarta dan sibuk main BB…

Sebegitu kuatnya pesonamu oh BB, sehingga engkau bahkan membuat beberapa orang asyik bermain dengan engkau bahkan di tengah-tengah ibadah. Tuhan mereka cuekin demi bisa bermain dengan engkau. Dengan alasan pendeta yang khotbahnya bikin bosen dan ngantuk mereka menjustifikasi perbuatan mereka. Weleh... weleh...

BB.. Oh.. BB.. Engkau mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat….

Malah kadangkala stir mobil sambil BB-an. Busettt…. Saking seremnya akibat menyupir mobil sambil BB-an, Will Smith sampe bikin film tentang kecelakaan yang diakibatkan karena sang pengemudi BB-an sambil nyetir, judulnya kalo tidak salah Seven Pound….

Saya harus bisa mengalahkan pesona My BB, harus!!! Saya komitmen tidak ada sesuatu apapun yang bisa menggantikan hubungan interpersonal secara langsung, apalagi hanya dengan hubungan melalui dunia maya yang tak terlihat dan hanya berupa tulisan.

Hubungan yang tak berasa dan tak berupa hanya digantikan oleh ikon-ikon kuning bulat sebagai ganti emosi secara langsung yang bisa terasa dan terlihat melalui intonasi suara, bahasa tubuh dan mimik wajah.

Manusia bukan robot dan tidak bisa menggantikan kehakikian hubungan interpersonal secara langsung dengan hanya hubungan dunia maya.

BB dibuat kecil dan muat digenggaman tangan sebagai pelambang bahwa dia berada digenggaman tangan kita, bukan sebaliknya kita berada digenggamannya, kita yang menguasainya bukan dia yang menguasai kita.

Selasa, 09 November 2010

Sebuah Perenungan

Rumah yang paling indah adalah rumah yang di dalamnya ada cinta

Makanan yang paling lezat adalah makanan yang disantap dengan hati yang bersyukur.

Penyembahan paling tinggi adalah dengan segala kesungguhan dan ketulusan kita mampu berkata: "Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi."

Kesuksesan sejati adalah ketika orang-orang memuji karakter kita dan bukan apa yang kita miliki.

Pencerahan sejati adalah ketika kita mampu berkata: "Semua kuanggap sampah, karena pengenalanku akan Kristus."

Orang paling kaya adalah seseorang yang berkata: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."

Kemiskinan yang paling miskin adalah ketika kita menganggap kita tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, tidak juga bahkan kata-kata "encouragement" atau sebuah pujian.

Pelayanan yang paling murni adalah ketika kita memberikan lebih dari apa yang kita dapatkan.

Hamba Tuhan sejati adalah mereka yang mampu berkata: "Kami hanya hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang Tuhan suruh kami lakukan."

Penghargaan sejati adalah ketika dibalik pintu kematian Tuhan bersabda: "Sabaslah wahai hamba-Ku yang baik dan setia, sekarang masuklah dan turutlah dalam kegembiraan tuanmu"

Jumat, 07 Mei 2010

GO MAKING LIFE BETTER

Pagi itu dengan langkah cepat Saya menyeberang jalan di depan kantor.

Sesampainya di seberang, tampak seorang ibu tua beserta cucunya kesulitan untuk menyeberang jalan ke arah sebaliknya. Maklum pagi itu lalu lintas agak padat dan semua kendaraan berlalu buru-buru menuju ke tujuan masing-masing. Tidak ada yang mau memberi jalan kepada seorang ibu tua dan cucunya.

Begitulah wajah jalanan kota Jakarta, Diisi oleh pengendara yang terburu-buru, macet dan semrawut, hal ini membuat setiap orang menjadi egois. Saling serobot yang penting sampai di tujuan dengan cepat. Kendaraan umum yang menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat yang dia suka, kadang malah di tengah jalan.

Yah, Jakarta diisi oleh orang-orang yang sibuk dan cenderung egois.

Kembali kepada Saya. Karena terburu-buru dan terkondisikan menjadi egois. Saya berjalan melewati ibu tua dan cucunya tersebut dan berbelok jalan.

Namun, hei! suara hati Saya menyindir: "Ayo, teruslah melangkah, teruskanlah gaya hidup tidak perduli dengan sekitarmu, toh, ini kota yang egois dengan penduduknya yang juga egois!"

Tiba-tiba Saya sadar, hati nurani Saya menggugah Saya. Saya merasa menjadi orang yang jahat, menjadi seperti orang Lewi dan Imam dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang Orang Samaria Yang Murah hati (Lukas 10:25-37).

Saya tidak mau hidup egois, Saya tidak mau hidup di dalam ketidakperdulian. Hati nurani Saya tidak mengizinkannya.

Setelah hati Saya berubah, Saya melihat peluang untuk menjadi pelaku firman. Ketika hati Saya perduli dengan sekeliling, Saya melihat yang tadinya merupakan beban, menjadi peluang untuk berbuat baik dan menjadi pelaku firman.

Saya cepat berbalik arah berharap semoga ibu tua tersebut belum menyeberang jalan atau seseorang lain menolongnya menyeberang jalan. Dan..... Mereka masih di sana kebingungan bagaimana cara menyeberang jalan. Dengan lembut Saya menawarkan bantuan: "Ibu, ingin menyeberang? Mari Saya antar." Dengan perasaan lega ibu tua dan cucunya tersebut mengiyakan tawaran Saya. Hanya perlu beberapa detik buat Saya menyeberangkan mereka berdua dan perjalanan Saya hanya tertunda sekitar 2 menit. Namun, dengan waktu yang singkat tersebut Saya sudah menjadikan hidup seseorang menjadi lebih baik dan memberikan pesan positif kepada mereka bahwa di Jakarta masih ada orang baik dan perduli dengan keadaan.

Dengan senyum yang tersungging Ibu tua tersebut mengucapkan terima kasih dan berjalan masuk ke dalam area gedung Istana Kana. Ahh... Rupanya ibu tua tersebut pasien Klinik Kana. Entah siapa yang sakit, ibu tua tersebut atau cucunya. yang jelas mereka dapat berobat dan dilayani oleh dokter-dokter dan suster-suster yang baik di Klinik Kana.

Ternyata membuat hidup orang lebih baik itu mudah. Semudah berbalik arah, semudah merelakan kursi kita di ruang tunggu, MRT atau bus kota diambil oleh orang lain, semudah mengunjungi seseorang di rumah sakit, semudah mengirimkan kalimat-kalimat atau cerita-cerita yang mengugah semangat atau ayat-ayat firman Tuhan melalui SMS, BBM atau e-mail.

Ternyata untuk membuat hidup orang lebih baik itu tidak perlu perkara-perkara sulit dan susah, tidak perlu dengan biaya tinggi.

Putuskanlah untuk berbuat baik, mungkin itu tidak akan memberi dampak yang luas, namun, minimal kita yakin dunia sudah kehilangan satu orang egois.

Ayo, tekadkan dan lakukan sesuatu yang akan membuat hidup orang lebih baik hari ini.

SALAM GO MAKING LIFE BETTER!!!
By J. Leo Imannuel
Executive Minister Gereja Alpha Omega Community, Jakarta

Selasa, 02 Februari 2010

I WANT TO BREAKFREE!!!

Seorang sahabat yang terkenal cerdas dan juga seorang filsuf amatir (Hehehehe…. Sorry mayori Amang - just kidding) menulis di wall facebook-nya demikian:

“Menciptakan sebuah kebebasan di dalam diri ternyata menciptakan keterikatan baru di dalam diri..... dan pada akhirnya tidak ada manusia yang bebas......”

Saya jadi merenungkan kalimat tersebut di atas. Benarkah tidak ada yang namanya kebebasan bagi manusia? Apa sih kebebasan itu? Kenapa banyak orang yang mengejar kebebasan, memberontak terhadap aturan-aturan yang berlaku malah mendapati dirinya berada di bawah perbudakan yang lain? Diperbudak narkoba, diperbudak hutang, diperbudak pornografi dan seks menyimpang, diperbudak oleh (maaf?) pelayanan dan gereja, terikat oleh kelompok tertentu dan tidak bisa keluar dari kelompok tersebut atau merasa diri tidak akan mampu dan merasa diri tidak berharga bila hidup di luar kelompok tersebut. Diperbudak oleh atturan-aturan yang menjemukan dan menyusahkan. Saya pernah mendengar cerita tentang hamba Tuhan dari sebuah gereja yang mengajarkan jemaatnya, bahwa pindah atau keluar dari gerejanya akan mendatangkan kutuk. Bahkan gereja membawa jenis keterikatan dan perbudakan lainnya. Bahkan ada gereja yang mengajarkan jemaatnya untuk mengikuti aturan-aturan tertentu, tidak makan makanan tertentu, mentaati hari-hari tertentu yang jika dilanggar akan mendatangkan kutuk.
Bukankah Tuhan Yesus mengatakan di dalam Yohanes 8:36:


“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

Kata “benar-benar” adalah terjemahan dari kata Yunani “ontos”, yang bermakna sesungguhnya, sebenar-benarnya, pada kenyataannya. Sedangkan kata “merdeka” diterjemahkan dari bahasa Yunani “eleutheros” yang bermakna merdeka, dibebaskan dari perbudakan-bukan lagi seorang budak. Jadi ayat di atas bermakna apabila Tuhan Yesus memerdekakan kita maka kita sebenar-benarnya, sesungguhnya, pada faktanya kita merdeka, bukan lagi budak. Tapi mengapa gereja yang seharusnya menjadi sang pewarta kebebasan justru “memperbudak” jemaat-Nya dengan aturan-aturan yang bertentangan dengan spirit yang Kristus bawa?


Ada banyak orang yang memberontak terhadap aturan dan tatanan yang berlaku di masyarakat, hidup bebas, hidup dijalanan. Melakukan apa yang dulu dianggap tabu. Pada akhirnya mereka - sadar maupun tidak - mendapati dirinya berada di bawah perbudakan yang lain. Contohnya anak-anak yang kabur dari rumah dan bergaya hidup hippies. Mereka melakukan apa yang dulu dilarang. Pasang anting di bagian-bagian tubuh yang tidak lazim, men-tatto tubuh mereka. Mereka diperbudak oleh filosofi hidup mereka. Untuk menyambung hidup mereka jadi pengamen. Tanpa sadar hidup mereka dibatasi oleh pemberian orang hasil mengamen. Ketika mereka dibatasi, sesungguhnya mereka tidak bebas. Ketika mereka menjadi tua dan tidak lagi produktif tebak nasib mereka akan seperti apa? Tersisih dan terbuang, hidup dari belas kasihan negara dan orang lain. Itukah yang namanya kebebasan?

ADAKAH KEBEBASAN ITU?

Benarkah ada kebebasan bagi manusia? Benarkah bebas berarti lepas dari semua aturan dan tatanan yang berlaku di masyarakat secara umum? Ada sebuah film yang menceritakan kisah yang menarik. Film tersebut mengisahkan seorang suami yang juga seorang karyawan di sebuah kantor. Pria ini merasa istrinya dan aturan-aturan kantor membelenggunya, membuat dia tidak bebas. Pria ini merindukan kebebasan sejati. Bebas dari tanggung jawab di kantor tapi tetap dapat gaji, merindukan bisa bebas dari istrinya tanpa perceraian dan hidup pesta pora. Lalu solusi datang. Ada sebuah perusahaan yang dapat membuat robot sangat mirip dirinya. Robot ini berwajah dan berperawakan persisi sama dengan dirinya. Bersuara dan bertingkah laku mirip dirinya. Setelah harga disepakati maka robot dikirm dan mulai melakukan tugasnya sebagai diri si pria ini. Robot ini bekerja dengan baik dan pulang menjadi suami yang baik buat istrinya. Sementara sang pria hidup pesta pora, hidup dari satu wanita ke wanita lainnya. Namun, lambat laun kebebasan yang dia hidupi membuat dia bosan. Pria ini kembali pulang ke rumah. Melalui jendela rumah dia mengintip dan melihat bagaimana robot ini telah menjadi suami yang sangat baik. Dia melihat bagaimana istrinya sangat berbahagia. Keluarganya menjadi keluarga yang berbahagia. Si pria menginginkan kehidupannya kembali. Dia menginginkan pernikahannya kembali. Dia menginginkan pekerjaannya kembali. Kebebasan yang dia kejar ternyata menjemukan.

Jadi apakah itu kebebasan? Jangan-jangan kita mengejar kebebasan yang salah. Jangan-jangan apa yang kita pikir kebebasan adalah ternyata bukanlah kebebasan. Atau adakah yang namanya kebebasan itu? Jangan-jangan juga kita mengejar sesuatu yang tidak ada.


BEBAS? MIMPI KALI YE…???!!!
Manusia adalah makhluk terbatas. Artinya kita memang dibatasi oleh banyak hal. Ruang dan waktu membatasi kita. Sakit penyakit dan kefanaan pada akhirnya menghentikan kita. Pengetahuan kita membatasi gerak dan langkah kita. Manusia memerlukan sumber-sumber lain di luar dirinya untuk bertahan hidup. Selama manusia masih membutuhkan sumber-sumber lain di luar dirinya, maka selama itu juga manusia tidak bisa bebas. Makanya manusia bukanlah makhluk bebas. Minimal tidaklah sebebas yang sebagian orang pikirkan. Bahkan hidup kita sendiri diberikan kepada kita, dan akan diambil pada waktu-Nya kelak. Semua yang kita lakukan, kehidupan yang kita jalani akan dimintakan pertanggungan jawab. Kita tidak memiliki hidup kita. Jadi sejatinya manusia itu bukanlah makhluk bebas, dalam artian manusia bukan makhluk independen.

HAMBA KEBENARAN ATAU HAMBA DOSA
Sejatinya manusia bukanlah majikan atas hidupnya. Manusia adalah seorang hamba. Manusia diciptakan untuk melakukan kehendak Tuhan, oleh karenanya menjadikan manusia, hamba Tuhan. Namun kemudian dosa menyebabkan manusia berubah setia dan menjadi hamba dosa, karena manusia lebih suka mengikuti keinginan daging.

Galatia 5:17 mengatakan:

“Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”


Apakah keinginan daging itu? Paulus mendefinisikannya dengan baik di dalam
Galatia 5:19-21:

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,
kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Kemudian Paulus membandingkannya dengan keinginan roh, pada ayat 22-23

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”


Kira-kira dari kedua definisi di atas manakah yang lebih suka kita lakukan? Jika bicara keinginan, tentu setiap kita ingin melakukan buah roh bukan? Tapi jika kita bicara dorongan hati maka kita cenderung melakukan keinginan daging. Keduanya saling bertolak belakang.

Roma 8:6 mengatakan:

“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”

Dari mulai lahir kita cenderung menjadi hamba daging, kita mengikuti keinginan daging. Kemudian Kristus datang memerdekakan kita

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”Galatia 5:1

Kita dibebaskan untuk menjadi hamba Allah. Loh, kok tetap hamba? Katanya merdeka? Kok istilahnya tetap hamba? Dengan menjadi hamba Allah kita akan melakukan kebenaran, dan menjadi hamba kebenaran. Karena dengan menjadi hamba kebenaran manusia akan benar-benar menjadi manusia seutuhnya, dan dengan demikian manusia akan mengalami kebebasan sejati. Kebebasan sejati manusia adalah dibebaskan dari kehendak dosa dan dikembalikan menjadi hamba Allah. Karena memang dari awal penciptaan, manusia diciptakan untuk melakukan kehendak Allah. Manusia akan mencapai kesempurnaannya ketika manusia melayani Allah di dalam kehendak-Nya. Sebaliknya ketika manusia melayani kehendak dosa, manusia berada di bawah perbudakan dosa.


Manusia akan mengalami degradasi kemanusiaannya ketika manusia melakukan kehendak daging. Contohnya ketika terjadi kerusuhan besar di Jakarta pada bulan Mei 1998. Apa yang terjadi? Manusia menjadi jahat, bahkan secara akhlak lebih rendah dari binatang. Manusia membunuh, memperkosa, menjarah, melukai. Apa yang terjadi di bagian lain di dunia ini juga sama. Pembantaian orang Yahudi oleh Nazi Jerman, ethnic cleansing di Rwanda (tontonlah film Hotel Rwanda atau Tears Of The Sun), Idi Amin di Uganda, Pol Pot di Kamboja dan masih banyak lagi yang lain. Manusia menjadi lebih rendah dari binatang, kekejaman manusia melebihi binatang. Atas nama kebebasan, narkoba merajalela, kehamilan anak di bawah umur meningkat. Atas nama hak azasi manusia, aborsi diizinkan. Pada saat yang bersamaan orang yang mengizinkan dan menyetujui tindakan aborsi, mereka juga meneriakkan perlindungan bagi binatang. Mereka marah atas pembunuhan binatang, mereka melakukan berbagai cara agar binatang dapat dilindungi, namun, mereka dapat tidur dengan nyenyak ketika jutaan janin dibunuh. Itukah kebebasan yang diimpikan? Di luar Tuhan manusia menjadi budak-budak nafsu yang menghancurkan. Tetapi dengan menjadi hamba kebenaran, manusia akan mencapai puncak kemanusiaannya. Segala kebaikkan akan dilakukannya. Itulah kebebasan yang ditawarkan oleh Kristus.

Catatan Akhir: Peraturan dan Kebebasan

Tuhan memberi banyak peraturan kepada manusia. Buat sementara orang peraturan-peraturan tersebut seperti menghambat kebebasan mereka. Benarkah demikian? Benarkah dengan memberi peraturan Tuhan sedang mengekang kebebasan manusia?

Ada pepatah di dalam bahasa Inggris yang mengatakan: “Rules are made to protect the game, not the game made to protect the rule.” Ada permainan yang namanya sepak bola atau bola basket karena ada peraturan permainan. Peraturan-peraturan tersebut di buat untuk melindungi keindahan permainan itu sendiri. Tuhan membuat berbagai peraturan untuk melindungi kehidupan itu sendiri, sehingga kehidupan menjadi indah. Apa yang terjadi di Jakarta pada bulan Mei 1998, Rwanda, Uganda, Kamboja adalah ketika manusia tidak takut kepada hukum, dan merasa berada di atas hukum. Manusia membuat hukum semaunya sendiri. Harus ada sebuah hukum absolut yang darinya semua hukum lain berasal. Itulah Alkitab!!!!!

Selasa, 12 Januari 2010

TIDAK ADA YANG GRATIS DI DUNIA INI

Judul di atas belakangan ini semakin menguat di dalam benak saya. Semakin lama semakin membuat saya sadar bahwa memang tidak ada yang gratis di dunia ini. Kasihan ya, Saya yang baru sadar :-(

Zaman nenek moyang kita dahulu, sebelum ada alat tukar yang namanya uang, mereka melakukan transaksi secara barter, tukar barang dengan barang. Namun, dengan berkembangnya dunia dan melalui berbagai evolusi, uang muncul menggantikan barter ( Silahkan pembaca klik ke http://id.wikipedia.org/wiki/Uang untuk lebih jelasnya mengenai sejarah uang). Namun apakah barter benar-benar hilang? Tidak! Sistem barter tidak pernah benar-benar hilang. Dia menjadi sistem pembayaran yang tidak terlihat, namun ada dan kita harus membayarnya, seringkali tanpa kita menyadarinya. Bagi kebanyakan kita setelah membeli sesuatu, membayarnya dengan uang lalu selesai. Padahal tidak sesederhana itu. Sewaktu kita membeli sesuatu dengan uang, sebenarnya kita juga membarter sesuatu yang kita atau orang lain miliki. Contohnya, kita membeli sebuah mobil. Kita membayarnya dengan uang, lalu membawa mobil tersebut pulang dari dealernya, selesai?! Tidak! Kita membayar lagi dengan sistem barter. Apa yang kita barter? Kita membarternya dengan cadangan sumber tenaga yang kian menipis, kita membarternya dengan udara bersih buat kita dan makhluk lain bernafas, karena gas emisi buang membuat polusi, akibatnya kualitas kesehatan menurun.

Untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia, kita membeli barang-barang di supermarket atau shopping centre. Cari barang kebutuhan, bayar lalu selesai. Benarkah? Tidak! Untuk membuat barang kebutuhan, pabrik dibangun. Kita membarternya dengan polusi mencemari air dan udara, sampah-sampah yang tidak bisa diurai dalam waktu yang singkat, yang pada akhirnya menyebabkan global warming. Dan masih banyak lagi harga yang harus kita bayar tanpa kita menyadarinya.

DOSA

1. Ada Harganya

Berdasarkan pemahaman bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini demikian pula di dalam dunia kerohanian. Keselamatan yang diberikan kepada kita tidak gratis.

"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."
1 Petrus 1:18-19


1 Petrus menjelaskannya dengan gamblang. Allah membayar hutang dosa kita dengan nyawa Putra Tunggal-Nya sendiri. Jadi keselamatan tidaklah gratis. Ada harganya dan MAHAL!!!!
Berarti untuk berbuat dosa ada harga yang harus dibayar? Ya! Dosapun tidak gratis! Ada harganya. Dan harganya mahal, makanya manusia tidak mampu membayar harganya, hanya Allah yang sanggup, itupun dengan sistim barter, Dia membarter Putra-Nya untuk menebus kita.

"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
Galatia 3:13

Nah, di sini kita masuk kepada sistim barter. Sewaktu kita akan berbuat dosa tanyakan pertanyaan ini: “Apa yang sebenarnya sedang Saya tukar/barter ketika Saya melakukan dosa ini?” Harga dosa itu mahal, dan konyolnya barang yang kita dapatkan tidaklah sebagus harganya. Harga dosa tidak ada dibanderolnya, anda tidak akan menemukan barcode harga pada dosa. Anda suka, tergoda lalu lakukan transaksi dosa, setelah itu baru harganya di kasih tahu, biasanya dengan perasaan sesal, namun, apa daya, sesal kemudian tak berguna kan? Lalu kita menjadi customer fanatik dari dosa tersebut, nyesal sih, tapi apa daya……

• Adam membayarnya/membarternya dengan kemuliaan Tuhan.
• Esau membayarnya/membarternya dengan hak kesulungannya.
• Bangsa Israel membayarnya/membarternya dengan 40 tahun di padang gurun.
• Korah, Datan dan Abiram membayarnya/membarternya dengan nyawanya dan nyawa 14.700 orang lainnya.
• Musa membayarnya/membarternya dengan hak untuk memasuki Tanah Perjanjian.
• Simson membayarnya/membarternya dengan kehormatan dan kekuatannya.
• Saul membayarnya/membarternya dengan takhtanya.
• Daud membayarnya dengan nyawa anak yang dikandung Batsyeba.
• Amnon membayarnya/membarternya dengan nyawanya dan pemberontakan Absalom.
• Salomo membayarnya/membarternya dengan perpecahan kerajaannya.
• Yunus membayarnya/membarternya dengan perut ikan.
• Imam Eli dan anak-anaknya membayarnya/membarternya dengan hak keimamannya.
• Herodes membayarnya/membarternya dengan nyawanya (ditampar malaikat)
• Yudas membayarnya/membarternya dengan nyawanya.
• Ananias dan Safira membayarnya/membarternya dengan nyawanya.
• Anak-anak Skewa membayarnya/membarternya dengan harga dirinya.
Tanyakan terus menerus pada diri Anda: “Apa sebenarnya yang sedang Saya bayar/barter ketika Saya berbuat dosa ini?”


2. Tidak ada Gold Membership Yang Ada Hanya Platinum Membership

Ada godaan dosa yang mengatakan: “Ayolah coba sekali saja, ini gak akan membunuh kamu kok!” Lalu akhirnya kita mendapati diri kita terikat dengan dosa tersebut. Berapa banyak para morfinis, drugs addict yang “hanya” coba-coba lalu keterusan??? Dari sebutir pil ekstasi, atau satu suntikan, atau satu sebatang ganja lama-lama daya toleransi tubuh kita terhadap zat-zat adiktif tersebut meningkat dan tahu-tahu kita sudah ketagihan dan mendapatkan kartu keanggotaan paltinum.

Pornografi juga mengikat. Dulu kurang lebih 15 - 20 tahun yang lalu untuk mendapatkan materi pornografi itu sangat sulit dan harganya mahal. Namun kini dengan perkembangan tekhnologi digital, tidak sulit dan murah untuk mendapatkan berbagai materi pornografi. Dari satu film porno ke film lainnya, dari satu website dewasa ke website lainnya. Lama-lama kita menjadi ketagihan dan tanpa sadar “harus” memenuhi kebiasaan biologis tersebut. Tidak ada yang bisa bebas dari dosa dengan mudah. Kita pribadi harus membayar harganya. Kadang dengan nyawa kita. So, don’t underestimate sins!!!

3. Suka Atau Tidak Dosa Itu Diwariskan

Pernikahan yang dipenuhi perselingkuhan sedang membarter kebahagiaannya dengan perceraian dan sakit hati 1 generasi dan yang akan mewarisinya kepada generasi berikutnya. Seorang kenalan, produk dari rumah tangga yang hancur karena ayah yang selingkuh pernah berkata: “Saya tidak akan menjadi seperti ayah saya.” Bertahun-tahun kemudia dia menikah dan ternyata dia selingkuh dan meninggalkan anak istrinya. Dia menjadi sama seperti ayahnya yang dia benci. Apa yang terjadi dengan anak-anaknya? Jika mereka tidak mengampuni ayahnya dengan kasih Kristus, tentu nasib mereka sudah jelas, akan ada pengulangan sejarah.

Pernahkah Anda berpikir: “Kenapa ya, Adam dan Hawa yang berbuat dosa, koq, kita yang kena getahnya?” Saya pernah! Jawabannya sederhana, karena di dalam diri Adam ada potensi 6 milyar penduduk bumi saat ini. Sehingga sewaktu dia berdosa dia membawa/mengakibatkan potensi tersebut menjadi tercemar. Sehingga kita diperanakkan di dalam dosa. Singkatnya dosa itu diwariskan. Untuk bebas dari dosa, Perjanjian Baru memakai istilah lahir baru dari benih Adam kedua, yakni Kristus.

“Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.”
1 Korintus 15:45


“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.”
1Korintus 15:22

“Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. “ Roma. 5:15

Perpecahan dan dosa-dosa raja-raja Israel (berikut umat Israel) diwariskan oleh Salomo yang hatinya berpaling kepada berhala-berhala para istrinya. Berikutnya para raja Israel dan Yehuda mewariskannya kepada keturunannya. Ingatlah, ketika kita berdosa kita sedang mewariskan kutuk bukan saja kepada hidup kita namun hidup keturunan kita, meski mereka belum dilahirkan.

“Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu-ribu orang dan yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang datang kemudian. Ya Allah yang besar dan perkasa, nama-Mu adalah TUHAN semesta alam,”
Yeremia 32:18

Sebaliknya sewaktu kita hidup benar, maka berkat orang benarpun akan kita wariskan kepada anak cucu kita meski mereka belum dilahirkan.
(Mzm. 37:25).

Diperlukan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja terakhir Israel, untuk mematahkan kutuk keturunan tersebut dan membangun kembali pondok Daud dan kerajaan Israel seperti gambaran Allah Bapa. Diperlukan Adam kedua yang sempurna yakni Tuhan Yesus Kristus untuk mematahkan dosa warisan Adam, sehingga kita semua dapat hidup benar dan kudus.

Apa yang sedang kita tukarkan hari ini?

http://leoimannuel.web.id/